Minggu, 30 Januari 2011

Pembantu Baruku Perawan Ting Ting

Pembantu Baruku Perawan Ting Ting
Perkenalkan namaku Benny. Aku berasal dari kota Malang (Jawa Timur), dan kedua orang tuaku masih tinggal di sana. Umurku baru 25 tahun, dan saat ini sedang studi Master tahun terakhir di Melbourne (Australia). Sejak lulus SMA aku langsung kuliah S1 di Jakarta, dan sempat bekerja selama setahun di Jakarta setelah lulus S1. Aku mendapat sponsor dari orang tua untuk melanjutkan pendidikan S2 di Australia. Aku memilih kota Melbourne karena banyak teman-temanku yang menetap di sana.
Di pertengahan bulan November 2005 adalah awal dari liburan kuliah atau di Australia sering disebut dengan Summer holiday (liburan musim panas). Summer holiday di Australia biasanya maksimum selama 3 bulan lamanya. Saat itu adalah pertama kali aku pulang ke tanah air dari studi luar negeri. Rindu sekali rasanya dengan makanan tanah air, teman-teman, dan orang tua.
Saat itu aku pulang dengan pesawat Singapore Airlines dengan tujuan akhir Bandara Juanda, Surabaya. Aku tiba di Surabaya sekitar pukul 11 pagi, dan terlihat supir utusan ayah sudah sejak jam 10 pagi menunggu dengan sabar kedatanganku. Ayah dan ibu tidak menjemputku saat itu karena hari kedatanganku tidak jatuh pada hari Sabtu atau Minggu, ditambah lagi dengan macetnya lalu lintas akibat banjir lumpur dikota Porong yang membuat mereka malas untuk ikut menjemputku di bandara.
Wajah supirku sudah tidak asing lagi denganku, karena supir kami ini sudah bekerja dengan ayah sejak aku berumur 5 tahun. Dia sudah aku anggap seperti pamanku sendiri. Aku sangat menghormatinya meskipun pekerjaannya hanya seorang supir.
Aku sempat mencari makan di kota Surabaya. Tempat favoritku tetap di restoran kwee tiau Apeng. Suasana restoran nampak tidak ramai, mungkin masih pagi hari. Di malam hari terutama di malam minggu, restoran ini akan penuh dengan antrean panjang.
Sehabis makan, aku meminta supirku untuk langsung jos pulang ke Malang. Badanku terasa letih sekali karena perjalanan yang panjang. Sepanjang perjalanan kami menghabiskan waktu mengobrol santai. Bahasa jawa supirku masih terkesan medok sekali. Dahulu semasa sma, bahasa jawaku juga lumayan medok. Tetapi sejak kuliah di Jakarta, aku jarang memakai bahasa jawaku, sehingga terkesan sedikit luntur. Tapi setiap kata-kata jawa yang terucap oleh supirku masih bisa aku mengerti 100%, hanya saja aku membalasnya dengan separuh jawa separuh bahasa Indo.
Kemacetan lalu lintas akibat banjir lumpur di kota Porong sempat menyita perjalanan pulang kami. Aku tiba di rumahku di kota Malang sekitar jam 4 sore. Sesampai di gerbang rumah, supirku menekan klakson, memberi peringatan orang di dalam rumah untuk membuka pintu gerbang.
Tak kurang dari 2 menit, pintu gerbang terbuka dan aku membuka jendela mobilku memberi sapaan hangat kepada bibiku. Bibiku yang satu ini juga lama ikut dengan ayah dan ibu. Bibiku ini bernama Tutik, dan sudah berumur sekitar 50 tahun lebih. Bibi Tutik jago sekali memasak masakan Indonesia. Makanan bibi yang paling aku rindukan selama aku kuliah di Jakarta dan Melbourne. Aku sudah membuat daftar panjang masakan Bibi Tutik selama 3 bulan liburan musim panas ini.
Setelah bersalaman dan bercanda ria dengan Bibi Tutik, tiba-tiba sosok gadis muda keluar dari pintu rumah memberikan salam kepadaku. Aku sempat tercengang oleh wajah cantik gadis yang masih terasa asing bagiku. Ternyata gadis muda ini adalah pembantu rumahku yang baru, karena pembantu sebelumnya telah menikah dan pindah bersama suaminya. Aku menafsir bahwa umur gadis ini sekitar 17 atau baru 18 tahun. Setelah diperkenalkan oleh Bibi Tutik, pembantu baruku ini bernama Yanti.
Yanti berperawakan sedang, sekitar 158 cm. Kulitnya sawo matang. Matanya hitam dan lebar sehingga tampak bersinar-sinar. Rambutnya hitam sebahu. Besar payudaranya bisa aku tafsirkan sekitar 32C. Pinggulnya mantap dan kakinya mulus tanpa ada borok. Wajahnya cantik berhidung mancung, hanya saja bibirnya sedikit tebal. Tapi mungkin itu yang membuatnya unik. Aku sempat tidak mengerti mengapa ibu bisa menemukan pembantu secantik ini.
Yanti membantuku membawa koper di bagasi masuk, dan menanyakan diriku apakah ada cucian atau pakaian kotor yang akan dicuci. Sepertinya Yanti telah diberi info oleh ibuku bahwa aku biasanya selalu membawa pakaian kotor sewaktu pulang dari Jakarta. Jadi tidak heran ibu bisa menduga bahwa aku pasti juga membawa baju kotor pulang.
Aku unpack 2 koper dan memisah-misahkan pakaian kotor dengan pakaian bersih, dan juga menata rapi oleh-oleh dari Australia. Aku sudah menyiapkan semua sovenir-sovenir untuk ayah, ibu, bibi Tutik, supir ayah. Dan tentu saja oleh-oleh yang pertamanya buat pembantu lama yang kini sudah tidak bekerja lagi dengan kita, saya berikan kepada Yanti. Ayah aku belikan topi cowboy dari kulit kangguru. Menurutku cocok untuk ayah, terutama disaat ayah sedang berkunjung di kebun apelnya. Ibu aku belikan kulit domba yang halus untuk hiasan lantai kamarnya. Supir ayah aku belikan korek api berlogokan kangguru dan kaos bergambarkan benua Australia. Sedangkan bibi Tutik dan Yanti, aku belikan 2 parfum lokal untuk setiap orang.
Yanti tampak hepi banget diberi oleh-oleh parfum dariku. Aku memang sengaja memilih parfum dengan botol yang unik, sehingga terlihat sedikit mahal.
Ayah dan ibu pulang dari kantor sekitar jam 6 sore. Malam itu bibi Tutik aku minta untuk memasak petai udang kecap favoritku. Aku melepas rindu dengan ayah dan ibu. Kami berbincang-bincang sampai larut malam. Tak terasa kami telah berbincang-bincang sampai jam 11 malam.
Kemudian aku berpamitan dengan ayah dan ibu. Badanku sangat letih. Aku sudah hampir 36 jam belum tidur. Aku tidak terbiasa tidur di dalam pesawat.
Sewaktu aku hendak menuju ke kamar tidurku, aku sempat berjalan berpas-pasan dengan Yanti. Melihat aku hendak berpas-pasan dengannya, Yanti langsung membungkukkan sedikit badannya sambil berjalan. Mata kami tidak saling memandang satu sama lain. Menurut tradisi kami, tidak sopan pembantu bertatap pandang dengan majikan saat berjalan berpas-pasan.
Malam itu, meskipun badan letih, aku masih belum langsung tidur. Aku sedang melihat-lihat photo-photoku dan teman-teman di Melbourne di handphoneku. Aku sempat kangen sedikit dengan Melbourne. Aku juga sempat berpikir mengenai Yanti, dan penasaran sekali bagaimana ibu bisa menemukan pembantu secantik Yanti.
Keesokan harinya aku bangun jam 10 pagi. Aku sudah tidak ingat sudah berapa jam aku tidur.
Suasana rumah sedikit hening. Ayah dan ibu sudah pasti balik ke kantor lagi. Aku memanggil-manggil bibi Tutik, dan tidak ada jawaban darinya. Tak lama kemudian Yanti muncul dari kebun belakang.
“Nyo benny wis mangan? (tuan muda benny sudah makan?)” tiba-tiba Yanti bertanya memecahkan suasana hening di rumah. Istilah ‘Nyo’ adalah kependekan dari ‘Sinyo’ (bahasa Belanda rancu) yang sering dipake di Jawa yang artinya tuan muda.
Aku berusaha membalas pertanyaan Yanti dengan bahasa Jawa. Tapi aku sudah tidak terbiasa berbincang-bincang dengan 100% bahasa Jawa.
“Durung, aku sek tas tangi kok. Mana bibi? Aku sudah laper nih! (Belom, aku baru aja bangun tidur. Mana bibi? Aku sudah lapar nih)” jawabku separuh Jawa separuh Indo.
“Bibik melok nyonya. Ora ero budal nang endi. Nyonya mau tetep pesen nang aku lek Nyo benny pengen tuku apo gawe mangan isuk (Bibi ikut nyonya. Tidak tau pigi kemana. Nyonya tadi titip pesan kepada saya kalo tuan benny ingin beli apa untuk makan pagi)” kata Yanti.
Pagi itu aku berharap bibi Tutik memasak untukku. Tapi apa boleh buat, aku akhirnya meminta Yanti untuk beli nasi pecel favoritku di dekat rumah. Hanya sekitar 100 meter dari rumahku. Setelah memberi uang kepadanya, Yanti pun langsung segera berangkat.
Sambil menunggu Yanti kembali, aku menyalakan TV sambil menonton acara-acara di MetroTV, RCTI, Trans TV, dan lain-lain. Rindu sekali aku dengan siaran-siaran televisi Indonesia. Aku sudah tidak sabar untuk menonton acara favoritku seperti Extravaganza, Empat Mata, dan banyak pula yang lainnya.
Hanya sekitar 20 menit, Yanti telah kembali. Sambil makan nasi pecel aku kembali menonton TV, sedangkan Yanti juga kembali ke kebun belakang kira-kira mencuci atau menjemur pakaian.
Mataku sempat mencuri-curi pandang ke kebun belakang. Terlihat wajahnya berkeringat karena terik matahari. Seperti yang aku duga, Yanti sedang menjemur pakaian. Aku merasa kasihan terhadapnya, karena rata-rata pakaian yang dijemurnya adalah milikku. Kulihat Yanti sedang berjinjit-jinjit sambil menjemur pakaian. Kaos yang dikenakan Yanti sedikit pendek, sehingga aku bisa melihat perut dan pusarnya. Perut Yanti ramping sekali. Payudaranya sedikit menonjol kedepan. Aku sedikit bergairah melihat kelakuan Yanti saat itu.
Aku menjadi tidak berkonsentrasi menonton TV, mataku tetap melirik saja ke arah Yanti.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara bibi Tutik.
“benny sek tas tangi?! Cek siange tangine. (benny baru bangun. Kok siang banget bangunnya)” suara bibi Tutik membuyarkan semuanya.
“Bibi teko endi? Tak carik-carik mau. (Bibi dari mana? Dari tadi aku cari-cari)” jawabku.
“Bibi sek tas melok nyonya nang pasar. Mari ngono barengi nyonya nang omahe koncone nyonya diluk. (Bibi tadi ikut nyonya ke pasar. Setelah itu nemenin nyonya ke rumah temannya sebentar)” jawab bibi.
“benny gelem opo siang iki? Gelem sambel lalapan Tutik? (benny pengen apa siang ini? Pengen sambel lalapan Tutik)” tanya bibi. Maklum memang sambel lalapan bikinan bibi Tutik tiada duanya. Makanya aku menamakannya ‘Sambel Lalapan Tutik’. Aku pernah berpikir untuk membuka depot khusus masakan bibi Tutik. Mungkin suatu hari nanti rencanaku ini bisa terwujud.
“Wuahhh … gelem bibi. Wis kangen aku mbek sambel lalapan tutik. Goreng ikan pindang mbek goreng tempe sisan yo. (Wuahhh … mau bibi. Dah kangen aku ama sambel lalapan tutik. Goreng ikan pindang dan goreng tempe juga yah)” jawabku dengan girangnya.
Hari demi hari, waktuku hanya terbuang menonton TV, makan masakan-masakan bibi Tutik, dan jalan-jalan ama teman-teman lama. Kadang-kadang aku berkunjung ke rumah sodara ayah, sodara ibu, dan sepupu-sepupuku. Lama kelamaan bahasa Jawaku kembali lagi seperti yang dulu.
Sampai pada suatu hari, sekitar pertengahan bulan December 2005 …
Sudah sebulan lamanya, aku hanya bisa memandang sosok Yanti dari kejauhan. Semakin banyak memandang, semakin tumbuh rasa penasaran yang besar pula. Yanti tampak semakin lama semakin cantik di mataku. Dan maaf, kata-kata yang sebenarnya adalah Yanti semakin membuatku bernafsu. Ingin sekali aku memiliki dirinya, jiwa dan raganya. Aku seperti kerasukan saat ini, tiap kali aku melihat Yanti, otakku selalu terbayang-bayang dirinya saat terlanjang.
Pada suatu hari, seingatku itu hari Jumat. Aku bangun kesiangan, lewat jam 11 pagi. Kepalaku pening karena bangun kesiangan. Kulihat sekeliling, bibi Tutik sedang tidak ada di rumah. Aku masa bodoh dengan keadaan sekitar yang sunyi. Aku duduk di sofa empuk di ruang keluarga, tapi kali ini aku tidak menyalakan tv. Kulihat Yanti sedang di halaman belakang seperti biasanya mencuci baju. Kali ini aku memberanikan niatku untuk mendekati, mungkin awalnya harus saling kenal dulu biar akrab. Aku tidak pernah ngobrol santai dengan Yanti selama ini, kebanyakan aku ngobrolnya dengan bibi Tutik. Karena mungkin aku telah dibesarkan juga oleh bibi Tutik, jadi apa saja bisa nyambung bila ngobrol dengan bibi Tutik.
Aku beranjak dari sofa dan menuju halaman belakang untuk mengajak Yanti ngobrol. Namun hanya terhitung beberapa langkah dari pintu belakang, aku terpleset dan terpelanting di belakang. Bunyi ‘gubrakan’ tubuhku lumayan keras, dan pinggangku sakitnya bukan main. Yanti terkejut melihat tubuhku yang terpelanting ke belakang. Aku meringis kesakitan, sambil memegangi pinggangku yang sakitnya bukan main.
“Nyo benny … kok iso moro-moro tibo? … (tuan muda benny … kok bisa tiba-tiba jatuh? …)” tanya Yanti panik.
Aku hanya bisa meringis sambil menunjuk lantai yang masih basah.
“Lahh … nyo benny mosok ora ketok lek tehel’e sek basa ngono … endi seng loro? … (lah … tuan muda benny masa ngga liat kalo lantainya masih basah … mana yang sakit? …)” tanya Yanti sekali lagi.
Aku hanya bisanya meringis sambil memegang pinggulku yang masih saja sakit.
“Mlebu sek nyo benny … tak urut’e cekno mendingan … longgo’o ndek sofa sek … Yanti golek obat urut ndek kamar nyonya? … (masuk dulu tuan muda benny … aku urut biar mendingan … duduk saja di sofa … Yanti cari obat urut di kamar nyonya? …)” pinta Yanti.
Aku menurut saja dengan permintaan Yanti. Aku baringkan tubuhku di atas sofa empuk. Tak lama kemudian Yanti kembali sambil membawa minyak tawon. Dia memintaku berbaring dengan posisi telungkup, dan menyuruhku membuka setengah pakaian atasku. Saat ini aku ngga ada pikiran apa-apa, karena aku masih berkonsentrasi membuang rasa sakit di pinggangku.
Yanti terus mengurut-urut pinggangku yang sakit lumayan lama, dan sekali-kali memijatnya. Aku akui pijatan dan urutan Yanti terasa nikmat, sehingga perlahan-lahan rasa sakitnya mulai menghilang. Ternyata pertolongan pertama yang ditawarkan Yanti sangat ampuh.
Kini rasa sakit di pinggangku perlahan-lahan membaik, meskipun masih ada sedikit rasa sakit. Namun rasa nikmat pijatan dan urutan Yanti membuat akal sehatku mati. Aku kemudian timbul rencana lain di dalam otakku.
“Yanti … ora enak iki ndek sofa … nang jero kamarku wae … ndek sofa iki kudu arep melorot wae badanku … (Yanti … kagak enak nih di atas sofa … di dalam kamarku aja … di atas sofa seperti yang mau melorot saja badanku …)” pintaku.
Yanti hanya mengangguk pertanda setuju. Kemudian aku menuju ke kamarku. Yanti memintaku untuk menunggu di kamar dulu, dia mau menyelesaikan jemuran baju dulu, karena tanggung.
Di dalam kamar, otak kotorku sedang merencanakan taktik bagaimana mendapatkan tubuh Yanti. Segala cara dan taktik telah aku pikirkan, dan banyak sekali yang ada di otak ini.
Selang beberapa saat Yanti mengetok pintu kamarku, dan aku menyambutnya dengan gembira.
“Yanti, bibik Tutik nyang endi? Teko omah jam piro jerene? (Yanti, bibi Tutik pergi mana? Jam berapa nanti pulang katanya?)” tanyaku.
“Bibik ono urusan’e, ketokan’e sesok jange teko omah maneh. Koyok’e urusan penting. (Bibi ada urusan, keliatannya besok baru pulang rumah lagi. Kayaknya urusan penting)” jawab Yanti.
Mendengar jawaban Yanti tersebut, aku girangnya bukan main. Berarti hanya aku dan Yanti saja yang ada di rumah saat ini. Papa/Mama pasti sedang di kantor, dan biasanya mereka baru pulang sekitar jam 6 sore, dan ini masih  jam 12 siang lewat. Aku mencium bau kemenangan.
“Yanti, pinggangku sek rodo loro … tolong uruten maneh yo … urutan-mu uenak tenan … ora kalah mbek pijetan’e sing wis mahir (Yanti, pinggangku masih rada sakit nih … tolong diurut lagi yah … urutan-mu enak banget … kagak kalah ama pijetan professional)” kataku sambil memujinya.
“Nyo benny iki ono-ono wae … iki sing pertama Yanti mijetin wong liyo … ora ono pengalaman’e (tuan muda benny ini ada-ada aja … ini baru pertama kali Yanti pijitin orang lain … masih belon ada pengalaman)” tundas Yanti.
“Walah walah … sing pertama wae wes hebat … pasti Yanti pisan hebat ndek bidang liyo (walah walah … yang pertama kali aja sudah hebat … pasti Yanti ada kehebatan di bidang lain) pujiku sekali lagi.
“Nyo benny iso wae seh … (tuan muda benny bisa aja sih)” jawab Yanti singkat.
“Yanti ojok jeluk aku nganggo jeneng ‘nyo’ … koyok cah cilik wae … jeluk nganggo jeneng mas Anton wae … (Yanti jangan panggil aku dengan nama ‘nyo’ … kayak anak kecil aja … panggil mas Anton aja)” pintaku. Yanti hanya mengangguk tanda setuju.
Suasana kamar sempat hening, hanya terdengar bunyi napas Yanti yang sedang asyik mengurut pinggangku. Tiba-tiba Yanti bertanya “Wes mendingan saiki mas benny? (Dah mendingan sekarang mas benny)”.
Otakku langsung merespon pertanyaan Yanti dengan cepatnya. “Pinggangku wes mendingan, tapi roso-roso’ne pokangku rodo linu. Coba’en diurut pisan pokangku. (Pinggangku sudah mendingan, tapi rasanya pahaku rada linu. Coba diurut juga pahaku)” jawabku ngawur tapi mengena.
Tanpa protes atau bertanya Yanti langsung mengurut pahaku. Pertama-tama paha kananku kemudian paha kiriku, saling bergantian. Posisi tubuhku kini terlentang, sehingga setiap urutan-urutan yang diberikan Yanti sangat terasa nikmat. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam celana dalamku, ingin berdiri saja maunya. Yah singkat kata, batang tongkolku dah dari tadi ingin sekali berdiri, tapi masih tertahan oleh celana dalamku.
Setelah selang beberapa saat, dengan tanpa malu-malu, tanpa basa-basi, dan dengan pasang muka beton, aku mulai memberanikan diri.
“Yanti, saiki pokangku wis ora linu maneh, tapi saiki endokku dadi rodo linu. Koyok’e nyambung teko pokang. Tolong sisan, tapi dielus-elus endokku lek ora keberatan. (Yanti, sekarang pahaku dah ngga linu lagi, tapi sekarang buah zakarku jadi rada linu. Kayaknya nyambung dari paha deh. Tolong juga, tapi dielus-elus saja buah zakarku kalo ngga keberatan.)”, pintaku tidak tau diri.
Yanti sempat terhenti, dan bengong aja melihat tingkah polahku yang tidak tau diri itu. Di raut wajahnya tidak tampak seperti protes atau marah, melainkan seperti kaget dan bengong seakan-akan bertanya-tanya.
“Kok iso linu endok’e mas benny … emange endok’e mas benny melok kepleset? (Kok bisa linu buah zakar mas benny … emangnya buah zakar mas benny ikut terpeleset?)” tanya Yanti lugu.
“Yah, koyok’e ngono. (Yah, kayaknya begitu)” jawabku singkat.
Tanpa banyak tanya lagi, Yanti perlahan-lahan mulai mengelus-elus buah zakarku dari luar celanaku. Rasanya tidak begitu nikmat, tapi ada getaran napsu yang muncul dari otakku.
“Uenak mas benny? (Enak mas benny?)” tanya Yanti. Aku menjawab dengan mengeleng-gelengkan kepalaku pertanda tidak enak.
“Yo opo sek uenak? (Trus gimana yang enak?)” tanya Yanti lagi.
Aku berpikir sejenak, kemudian aku perolotin celanaku berserta celana dalamku. Serentak melihat gelagatku, Yanti kaget bukan main dan secara reflek memejamkan matanya.
“Mas bennyy … lopo kok mlorotin katok … ora ono acara’ne ngomong dhisik … (Mas bennyy … kenapa kok melorotin celana … tanpa ada acara ngomong lagi)” protes Yanti dengan matanya yang masih terpejam.
“Loh, Yanti sek tas mau takok yok opo cekno uenak … lah ya aku plorotin wae katok’e … cekno uenak elus-elusan’e (Lho, Yanti tadi tanya gimana caranya biar enak … yah aku lepas saja celananya … biar enak elus-elusannya)” jawabku menyakinkan Yanti.
Yanti masih tetap memejamkan matanya, tapi tangannya mencoba meraba-raba pahaku mencari buah zakarku lagi. Setelah mendapatkan buah zakarku, Yanti kembali mengelus-elusnya lagi. Kali ini … alamak … enak banget. Terasa lembut sekali tangan Yanti. Serentak saja, batang penisku langsung tegak dan mengeras.
“Lah … opo iki mas benny … kok atos soro? (Lho … apa ini mas benny … kok keras banget?)” tanya Yanti heran dengan mata sambil terpejam.
“Yo delok’en wae Yanti … buka’en moto-mu cekno weruh … ora bahaya kok (Yah liat aja Yanti … buka dulu matanya biar tau … ngga bahaya kok)” jawabku dengan jantungku berdegup-degup kencang.
Perlahan-lahan Yanti membuka matanya, dan langsung terbelalak kedua matanya sambil terheran-heran.
“Lah … manuk’e mas benny kok iso ngaceng koyok ngono … linu sisan tah? (Lho … burung mas benny kok bisa tegang kayak gitu … linu juga tah?)” tanya Yanti lugu.
“Iki jeneng’e manukku ‘happy’ alias seneng … soale endok’e dielus-elus wong wedok sing ayu kayak Yanti (Ini namanya burungku ‘happy’ alias senang … soalnya buah zakarnya dielus-elus wanita cantik kayak Yanti)” kataku mulai merayu.
“Mas benny iki … (Mas benny ini …)” kata-katanya terputus dan terlihat wajah Yanti yang malu-malu atas pujianku itu. Yanti ternyata masih lugu dalam hal beginian, membuatku semakin yakin kalo Yanti ini masih ting-ting alias perawan.
Tanpa disuruh olehku, Yanti mulai mengelus-elus batang penisku dengan lembut, kadang-kadang mengurut-urutnya. Tak karuan rasanya, semakin dielus, semakin tegang dan tegak berdiri. Yanti dari tadi senyum-senyum saja, dan tampak wajahnya yang masih malu-malu.
Setelah lama dielus-elus oleh Yanti batang penisku berserta buah zakarnya, aku ingin melaju di langkah berikutnya. Aku semakin berani dan tidak sungkan-sungkan lagi. Sambil berbaring kutatap wajah cantik dan manis Yanti.
“Yanti …” kataku.
“Emmm …” jawab Yanti singkat.
“Saiki gantian yo … (Sekarang gantian yah)” kataku.
“Gantian yo opo? (Gantian gimana?)” tanya Yanti.
“Hmmm … ngene … saiki gantian aku … teko mau Yanti wis delok manukku mbek endokku … sek dielus-elus maneh … saiki gantian aku seng delok tempik’e Yanti (Hmmm … gini … sekarang gantian aku … dari tadi Yanti dah liat burungku ama buah zakarku … dan dielus-elus lagi … sekarang gantian aku yang liat memiaw Yanti” kataku tanpa basa-basi.
“Emoh mas benny … isin aku … ojok mas benny … (Ngga mau mas benny … malu aku … jangan mas benny)” tolak Yanti.
Penolakan Yanti yang setengah hati itu membuatku makin penasaran dan makin bernapsu. Aku beranjak dari ranjang, dan memaksa lembut Yanti untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjangku. Setelah berhasil merebahkan tubuhnya Yanti langsung bertanya.
“Mas benny … kate diapakno aku? (Mas benny … mau diapain aku?)” tanya Yanti pasrah.
“Menengo wae Yanti … ora aku apak-apak’no kok … mek arep delok tempik’e Yanti … ora adil lek teko mau manukku tok seng didelok (Diam aja Yanti … ngga bakalan aku apa-apain kok .. cuman pengen liat memiaw Yanti aja …ngga adil kalo dari tadi burungku saja yang diliat)” kataku bohong. Padahal dibalik benakku banyak hal yang aku ingin lakukan terhadap Yanti, terutama terhadap tubuhnya.
Aku sekap roknya, dan aku tarik celana dalam dibalik roknya. Yanti berusaha menahannya, tapi usahanya sia-sia, karena dia menahannya dengan setengah hati alias tidak dengan sekuat tenaga. Kelakuan Yanti ini seperti lampu hijau untukku. Seakan-akan pasrah saja mau diapain olehku.
Setelah berhasil melepas celana dalamnya, aku tarik roknya ke atas perutnya, agar supaya aku bisa melihat jelas memiawnya. Secara reflek Yanti menutup memiawnya dengan tangannya.
“Wes mas benny … isin tenan aku … (Udahan mas benny … malu banget aku …)” kata Yanti.
“Durung Yanti … ojok mbok ditutupi tok tempik’e … ora ketokan … (Belon Yanti … jangan ditutup terus dong memiawnya … ngga keliatan)” kataku protes.
Aku kemudian tarik tangannya yang sedang menutupi memiawnya. Yanti langsung menutup mukanya dengan kedua tangannya, dan kedua pahanya menyilang. Yanti masih terus berusaha menyembunyikan memiawnya dariku. Bisa aku maklumi perasaan malu yang sedang Yanti alami. Aku mencoba merayu dan menyakinkan Yanti apa adanya.
“Ojok isin-isin Yanti … ora ono sing ndelok kok … men aku tok wae … (Jangan malu-malu Yanti … ngga ada siapa-siapa yang bisa liat kok … cuman ada aku saja …)” rayuku lagi.
Kini Yanti mulai pasrah, dan kedua pahanya yang tadinya menyilang, sekarang sudah mulai kendor. Segera saja aku ambil kesempatan ini untuk mengendorkan pertahanan Yanti. Setelah aku berhasil membuka selangkangan Yanti … alamak … aku langsung menelan ludah. memiaw Yanti begitu indah dan subur ditumbuhi oleh jembut-jembut yang masih lembut. Aku yakin jembut-jembut ini tidak pernah sekalipun Yanti cukur sejak pertama kali tumbuh, sehingga masih tampak halus lembut.
Kucoba lagi membuka selangkangan Yanti lebih lebar lagi, aku ingin sekali menemukan biji etil Yanti. Aku merasa kesulitan menemukan biji etil Yanti dengan mata terlanjang. Ketika aku mencoba membuka bibir memiaw Yanti untuk menemukan biji etilnya, Yanti langsung protes.
“Mas benny … ojok mas … (Mas … jangan mas …)” pinta Yanti. Aku semakin gemas dengan nada penolakan pasrah Yanti.
Aku tidak mengubris permintaan Yanti, dan semakin gencar bergerilya mencari biji etilnya. Ternyata tidak susah menemukan biji etilnya dengan mencari pakai tangan. Aku mainin biji etilnya dengan gemas.
“Mas benny … wes mas … uisin tenan aku … (Mas benny … udahan mas … malu banget aku)” mohon Yanti.
Otakku sudah gelap, dan tetap memainkan biji etilnya. Ternyata tidak perlu memakan waktu lama untuk membuat memiaw Yanti basah. Mungkin ini pertama kalinya Yanti merasakan nafsu birahi alias horny. Dia seperti tidak tau harus bagaimana menghadapi situasi saat itu. Kedua tangan tidak lagi menutup wajahnya. Tangan kanannya bersembunyi di balik bantal, dan tangan kirinya meremas guling. Yanti menggigit bibir bawahnya, seolah-olah menahan geli. Tidak kudengar suara desahan dari mulut Yanti, tapi nafasnya kini sudah berubah menjadi memburu. Aku berasumsi bahwa Yanti masih belum bisa atau belum terbiasa mendesah.
“Yanti … tempik mu wis buasah tenan saiki … (Yanti … memiawmu dah basah banget sekarang)” pujiku.
“Masss … masss … wes masss … Yanti mbok opok’no … jarene mbek delok tok … saiki kok di dolen tempik ku (Masss … masss … udahan masss … diapain Yanti … katanya cuman mau liat aja … sekarang kok dimainin memiawku)” protes Yanti pasrah.
“Aku wes kesengsem karo tempikmu iki … gemesi wae … tak elus-elus malah dadi buasah … (Aku dah jatuh cinta ama memiawmu … bikin gemes aja … dielus-elus malah jadi basah) … ” kataku sambil bercanda.
Belum selesai aku melanjutkan kalimatku, Yanti secara reflek tiba-tiba menjerit “Mas bennyyy … massssss …”. Yanti orgasme di atas ranjangku.
Aku biarkan Yanti mengambil nafas dulu biar sedikit tenang.
“Yanti sek tas mau kok bengok … loro tah? (Yanti barusan aja kok teriak … sakit?” tanyaku pura-pura bego.
“Ora loro mas … sek tas-an Yanti koyok kesetrum … rasa’e koyok nang surgo … uenak tenan … atiku saiki sek dek-dekan (Ngga sakit mas … barusan Yanti kayak kena setrum … rasanya seperti di surga … enak banget … jantungku sekarang masih deg-degan)” jawab Yanti.
Kini saatnya giliranku untuk orgasme. tongkolku sudah sejak tadi tegang melihat kelakuan Yanti. Pekerjaanku masih belum tuntas. Aku bingung apa yang harus aku katakan ke Yanti bahwa aku ingin menyodok tongkolku ini ke dalam memiawnya yang masih perawan itu.
Akhirnya aku memutuskan untuk tidak bertanya atau berkata apapun. Aku mencoba untuk langsung main terobos saja. Aku kembali membuka selangkangan Yanti, dan mencoba mengarahkan tongkolku ke mulut memiawnya. Yanti protes lagi.
“Mas benny arep opo? (Mas benny mau apa?)” tanya Yanti heran.
“Oh … aku gelem kesetrum sisan … koyok Yanti seng mau (Oh … aku juga mau kesetrum … kayak Yanti tadi)” jawabku spontan.
“Lah … terus laopo manuk’e mas kate mlebu nang tempikku? (Lho … trus kenapa burung mas mau masuk ke memiawku?)” tanya Yanti heran.
Yanti benar-benar masih bau kencur di dalam urusan seperti ini. Mungkin tidak ada orang yang pernah mengajarinya teori tentang hubungan seks atau biasanya disebut dengan hubungan pasutri (pasangan suami istri).
“Aku baru iso kesetrum lek manukku mlebu nang tempikmu (Aku baru bisa kesetrum kalo burungku masuk ke memiawmu)” jawabku gombal.
“Ojok mas … engkuk loro … jarene wong-wong (Jangan mas … nanti sakit … katanya orang-orang)” katanya.
“Ojok wedhi Yanti … tak mlebu pelan-pelan wae … tak jamin ora loro (Jangan takut Yanti … dimasukin pelan-pelan aja … dijamin ngga sakit)” rayuku.
Yanti diam saja dan pasrah.
Aku kemudian mengarahkan ujung penisku ke bibir vagina/memiaw Yanti. Yanti memejamkan matanya, dan kini giginya kembali menggigit bibir bawahnya.
Tangan kananku memegang pangkal penisku agar batang tongkolku tegak dengan mantap, dan tangan kiriku berusaha membuka bibir vagina Yanti, supaya aku bisa melihat lubang memiawnya. Karena Yanti masih perawan, ngga mudah untuk menembus pintu masuk gadis perawan. Hal ini sudah aku alami sekali dengan pacar lamaku. Aku ngga ingin melihat Yanti nantinya menangis seperti yang dialami oleh mantan pacarku yang dulu, setelah aku paksa masuk batang tongkolku ke lubang memiawnya yang masih perawan.
Pertama-tama aku basahi terlebih dahulu ujung penisku dengan air ludahku biar menjadi pelumas sementara, kemudian aku dorong masuk ujung penisku kira-kira sedalam 2 centi. Setelah berhasil masuk kira-kira kedalaman 2 centi, aku diam sejenak, kulihat Yanti sedikit meringis menahan perih.
“Perih Yanti?” tanyaku iba.
“Rodok perih mas (Rada perih dikit mas)” jawab Yanti yang kini matanya kembali terbuka memandangku.
“Tak mlebu alon-alon yah … lek perih ngomong’o … ojok meneng ae … (Aku masukin pelan-pelan yah … kalo perih bilang aja … jangan diam aja) …” suruhku.
Suasana kamarku makin panas saja rasanya. Aku lepas bajuku, sehingga kini aku sudah terlanjang bebas. Kondisi Yanti masih lengkap, hanya roknya saja yang terbuka.
Batang penisku yang dari tadi sudah masuk 2 centi itu masih tampak keras saja. Aku kini tidak lagi memegangi batang tongkolku, karena dengan menancap 2 centi saja di dalam memiaw Yanti dalam kondisi amat tegang, mudah untukku menembus semua batang tongkolku. Tapi kini aku harus memasang taktik biar Yanti nantinya juga menikmati. Perih adalah maklum untuk gadis perawan yang sedang diperawani.
Kedua tanganku kini menahan tubuhku. Aku membungkuk dan menatapi wajah Yanti yang cantik. Yanti masih terlihat sedikit merintih karena rasa pedih yang dialaminya.
Aku menekan lagi batang penisku, masuk sedikit, kira-kira setangah sampai 1 centi. Yanti meringis lagi.
Aku mainkan pinggulku maju dan mundur agar batang penisku maju mundur di dalam liang memiaw Yanti. Batang tongkolku cuman mentok sampai kedalaman kira-kira 3 centi. Tapi aku terus bersabar sampai nanti tiba saatnya yang tepat. Aku teruskan irama maju mundur batang tongkolku di dalam memiaw Yanti.
Perlahan-lahan suara rintihan Yanti semakin memudar, dan wajah Yanti tidak lagi merintih. Ujung penisku terasa basah oleh cairan yang kental. Aku yakin cairan ini bukan air liurku yang tadi, melainkan cairan murni dari memiaw Yanti.
Sekarang batang tongkolku bisa masuk perlahan-lahan lebih dalam lagi, dari 3 centi maju menjadi 4 centi, kemudian dari 4 centi masuk lebih dalam lagi menjadi 6 centi.
“Sek perih Yanti? (Masih pedih Yanti?)” tanyaku. Yanti menggeleng-gelengkan kepala pertanda tidak lagi sakit.
Napas Yanti kini kembali memburu dan terengah-engah, dan tidak lagi menggigit bibir bawahnya. Tangan kanannya meremas sarung ranjangku dan tangan kirinya meremas selimutku.
Goyangan pinggulku aku percepat sedikit demi sedikit, memberikan sensasi erotis terhadap memiaw Yanti. Dalam sekejap kini aku bisa membuat batang tongkolku kini terbenam semuanya di dalam lubang kenikmatan milik Yanti.
“Sek perih Yanti? (Masih pedih Yanti?)” tanyaku sekali lagi. Yanti kali ini tersenyum malu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lagi.
“Tempik mu wis uenak maneh? (memiawmu dah enakan lagi?)” tanyaku bercanda. Yanti mengangguk.
“Yanti … buka en klambimu … mosok ga kroso panas tah? … buka en ae cekno adem (Yanti … buka dong bajumu … masa ngga merasa panas? … buka aja biar sejuk)” kataku. Aku sebenarnya ingin memperawani Yanti dalam keadaan benar-benar terlanjang.
yanti menurut saja, dan kemudian dia melepas kaos bersama BH-nya, dan masih membiarkan roknya, karena batang tongkolku masih sibuk menari-nari di dalam lubang memiawnya. Tampak payudara Yanti yang merekah dengan ukuran 32C menurut tafsiranku. Tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Pas untuk ukuranku. Puting susunya berwarna coklat gelap. Typical atau khas payudara wanita asli Indonesia. Melihat puting susunya yang menantang seperti itu, membuatku gemas rasanya. Aku mencubit sambil memelintir puting susunya, dan Yanti protes atas tindakanku tersebut.
“Masss … loro masss … (Masss … sakit masss …)” protes Yanti lembut. Aku pun kemudian senyum padanya, dan langsung menghentikan tindakanku tersebut.
Aku merasa sudah lama aku menggenjot tubuh Yanti siang itu. Tapi aku masih belum menampakkan tanda-tanda akan datangnya klimaksku. Aku sejak tadi berpikir antara iya atau tidak nantinya aku memuncratkan air maniku ke dalam memiawnya. Sejujurnya aku berkeinginan hati untuk menyirami memiaw Yanti dengan air maniku, tapi aku juga rada kuatir akan konsekwensinya bila terjadi apa-apa dengannya, alias hamil nantinya.
Nafas Yanti semakin memburu saja, tapi wajahnya tampak makin gelap saja. Darah Yanti seakan-akan memanas dan terkumpul di atas kepalanya. Kali ini Yanti tak kuat untuk menahan genjotan-genjotan dan gesekan-gesekan nikmat yang diberikan oleh batang tongkolku. Mulut Yanti kini tak terkontrol. Untuk pertama kalinya mulut Yanti mendesah atau merintih basah.
“Uhh … ohhh … masss … masss … kerih (geli) masss …” rintih Yanti.
“Aku kerih sisan Yanti … Yanti wis arep ngoyo? (Aku geli juga Yanti … Yanti sudah mau pipis?)” tanyaku penasaran melihatnya sudah seperti cacing kepanasan. Leher Yanti sudah mulai berkeringat. Sekujur badanku juga tidak kalah keringatnya. Semakin berkeringat, semakin seru saja aku menggagahi tubuh Yanti.
Seperti tau apa yang aku maksud dengan kata ‘pipis’, Yanti pun menganggukkan kepalanya. Yanti sudah akan memasuki tahap orgasme yang kedua kalinya.
Tidak sampai hitungan 2 menit, Yanti tiba-tiba memiawik sambil tangan kanannya meremas biceps-ku.
“Masss … ampunnn masss … kerih mbanget … arep ngoyo ketok’e … aahhh … (Masss … ampunnn masss … geli banget … ingin pipis rasanya … ahhh …)” pekik Yanti dengan tangan kanannya yang masih meremas biceps-ku.
Tidak salah lagi, Yanti telah mencapai orgasme keduanya. memiawnya semakin basah saja. Aku berhenti menggenjotnya dan mendiamkan batang tongkolku tertanam dalam-dalam di dalam memiawnya yang basah nan hangat. Kurasakan setiap denyutan daging-daging di dalam memiaw Yanti.
Setelah buruan nafasnya mereda, aku cabut batang tongkolku keluar dengan maksud untuk melepas roknya yang masih menempel di tubuhnya. Aku ingin melihatnya bugil tanpa busana apapun. Saat kutarik batang tongkolku, aku melihat sedikit bercak darah di tengah-tengah batang tongkolku, dipangkal tongkolku, dan di daerah bulu jembutku. Kuperawani sudah Yanti, dan ini adalah bukti keperawanan Yanti yang telah aku renggut darinya.
Yanti kini bugil tanpa selembar kain apapun. Aku kembali memasukkan batang tongkolku ke dalam memiawnya. Masih terasa basah liang memiaw Yanti.
“Yanti … saiki aku sing kate ngoyo … siap-siap yo (Yanti … sekarang aku yang harus pipis … siap-siap yah)” kataku.
Yanti seperti tidak mengerti apa yang aku katakan, tapi kepala mengangguk saja (hanya menurut saja). Aku kembali menggenjoti liang memiawnya lebih cepat dari biasanya. Kupercepat setiap hentakan-hentakan, dan bisa kurasakan kenikmatan gesekan-gesekan terhadap daging-daging di dalam memiaw Yanti. Memberikan sensasi yang luar biasa dasyatnya.
Wajah Yanti kembali memerah, dan kini nafasnya kembali memburu lagi. Kali ini Yanti sudah tidak malu-malu lagi untuk mendesah dan merintih nikmatnya bercinta.
“Yanti … kepenak temenan nyenuk karo Yanti … tempik-mu gurih tenan (Yanti … enak/senang banget ngent*t ama kamu … memiawmu gurih banget)” pujiku sambil terus menggenjot memiawnya.
“Masss benny … masss … aku arep ngoyo maneh … ahhh masss … (Masss benny … masss … aku pengen pipis lagi … ahhh masss …)” desah Yanti.
“Iku jenenge arep teko Yanti … ora arep ngoyo (Itu namanya mau datang Yanti … bukan mau pipis)” jawabku sambil tertawa renyah dan Yanti pun tersenyum bingung. Mungkin baginya istilah ‘datang’ masih terasa aneh.
Sekujur tubuhku berkeringat dan tergolong basah kuyup. Sudah berapa tetes keringatku yang jatuh di perut dan dada Yanti. Posisiku menyetubuhinya masih tetap berada di atas. Sejak tadi aku belum menyuruhnya merubah posisi. Mungkin bagiku lebih nyaman untuk Yanti digagahi dengan posisiku di atas. Yanti masih termasuk bau kencur dalam masalah beginian.
Batang tongkolku makin lama terasa makin mengeras. Lahar mani di dalamnya ingin segera meletup keluar. Aku sudah tidak mampu untuk berpikir dengan akal sehat kembali. Otot-otot disekujur batang tongkolku sudah tidak mampu lagi membendung lahar panas yang ingin segera menyembur keluar. Aku sudah tidak perduli lagi dengan rasa kuatirku tadi. Aku hanya ingin menyemburkan lahar panas ini secepat mungkin. Isi otakku sudah gelap rasanya.
“Yanti … aku arep teko iki … ora iso di tahan maneh … saiki Yanti … saikiii … Yantiii … (Yanti … aku mau datang nih … ngga bisa ditahan lagi … sekarang Yanti … sekaranggg … Yantiii)” aku mengerang keras diiringi oleh semburan lahar panas dari batang tongkolku yang mengisi semua liang memiaw Yanti. Semburan panas dari batang tongkolku mendapat sambutan hangat dari Yanti. Aku memeluk erat tubuh Yanti, dan Yanti membalas memelukku sambil memiawik memanggil namaku. Aku hanya dapat menduga bila Yanti mendapatkan orgasme-nya yang ketiga kali. Batang tongkolku berkali-kali memuntahkan lahar panasnya di dalam lubang kenikmatan milik Yanti. Mungkin sekarang liang memiaw Yanti penuh sesak oleh lahar maniku.
Aku diam sejenak, mengatur nafasku kembali. Tubuhku masih menindih tubuh Yanti. Kini semua keringatku bersatu dengan keringat Yanti. Aku memeluk Yanti, sambil menciumi lehernya. Batang tongkolku masih menancap di dalam memiaw Yanti. Aku masih belum ingin mencabutnya sampai nanti batang tongkolku sudah mulai meloyo.
“Yanti … terima kasih … ” bisikku dalam bahasa Indo. Yanti hanya diam saja. Tak lama kemudian, aku mendengar Yanti menyedot ingusnya. Ternyata mata Yanti tampak berkaca-kaca. Aku menduga kuat Yanti ingin sekali menangis, dan tampak penyesalan di wajahnya. Melihat tingkah laku Yanti, aku berusaha memberinya comfort (kenyamanan), dan rayuan agar membuatnya lega atau tidak sedih kembali. Aku mengatakan kepada Yanti bahwa ini adalah rahasia kita berdua, dan mengatakan bahwa aku sayang kepadanya. Aku berjanji padanya bahwa ini adalah untuk pertama dan terakhir kalinya aku menyetubuhinya. Yanti begitu menurut dengan kata-kataku dengan polos dan lugu.
Aku sedikit ada rasa penyesalan telah memperawani gadis cantik dan imut seperti Yanti. Aku meminta maaf kepadanya karena aku khilaf dan tidak dapat menahan keinginanku itu karena sejak lama aku memantau dan melihat sosok dirinya dari kejauhan. Begitu dekat dengannya, aku tidak mampu lagi menahan nafsu birahiku.
Selama liburan musim panas tersebut, aku sering sekali mencuri-curi waktu dan tempat untuk bersetubuh dengan Yanti. Sejak pertama kali memperawaninya, agak susah untukku untuk menggagahi tubuh nikmatnya lagi. Yanti selalu menolak dengan alasan takut sakit atau apa gitu. Tapi dasar lelaki yang penuh dengan akal muslihat, aku tetap berhasil menikmati tubuhnya dan memiawnya berkali-kali.
Untung saja, makin lama Yanti semakin menyukai berhubungan badan denganku. Banyak teknik yang aku ajarkan kepadanya, dari BJ, HJ, dan posisi bercinta yang lain (doggy style, woman on top, gaya menyamping, dll). Aku kadang meminta Yanti memberikan BJ atau HJ di ruang keluarga sambil aku menonton TV disaat tidak ada orang di rumah.
Sejak saat itu pula, aku selalu memakai condom untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan. Aku tidak ingin aib ini sampai tercium oleh anggota keluargaku yang lain.
Sudah sering kali aku bermain cinta dengan Yanti di liburan musim panas ini. Aku sempat mengganti tanggal pesawatku kembali ke Melbourne agar aku bisa lebih lama di Indonesia. Aku kembali ke Melbourne untuk melanjutkan studiku lagi sekitar akhir Februari. Semenjak kembali ke Melbourne lagi, aku kangen dengan Yanti, dan rindu bercinta dengannya. Kadang-kadang aku menelpon rumah di waktu siang hari (waktu Indonesia) untuk mengobrol dengan Yanti. Dan seputar obrolan kami adalah tentang ‘gituan’ aja.
Studiku tinggal 1 semester lagi. Aku sudah tidak sabar untuk menyelesaikan studiku ini, agar aku bisa kembali ke Indonesia bertemu kembali dengan Yanti. Sebenarnya aku sendiri tidak tau bagaimana masa depanku dengan Yanti. Tapi aku berkeinginan untuk tetap tinggal di Malang, paling tidak melanjutkan atau bekerja di kantor perusahaan papa. Dengan ini aku bisa senantiasa dekat dengan Yanti. Biarlah nanti waktu yang akan menentukan nasibku dengan Yanti.
»»  READMORE...

Kamis, 27 Januari 2011

Tante Vida yang Sintal


Tante Vida yang Sintal
Nama saya Dodi. Sekarang saya masih kuliah di Universitas dan Fakultas paling favorit di Yogyakarta. Saya ingin menceritakan pengalaman saya pertama kali berkenalan dengan permainan seks yang mungkin membuat saya sekarang haus akan seks.Waktu itu saya masih sekolah di salah satu SMP favorit di Yogyakarta. Hari itu saya sakit sehingga saya tidak bisa berangkat sekolah, setelah surat ijin saya titipkan ke teman terus saya pulang. Ketika sampai di rumah Papa dan Mama sudah pergi ke kantor dan Mama pesan supaya saya istirahat saja di rumah dan Mama sudah memanggil Tante Vida untuk menjaga saya. Tante Vida waktu itu masih sekolah di sekolah perawat. Sehabis minum obat, mata saya terasa mengantuk. Ketika mau terlelap Tante Vida mengetuk kamarku.Dia bilang, “Dod, sudah tidur?”Saya jawab dari dalam, “Belum, tante!”Tante Vida bertanya, “Kalau belum boleh tante masuk.”Terus saya bukakan pintu, waktu itu saya sempat kaget juga melihat Tante Vida. Dia baru saja pulang dari aerobik, masih dengan pakaian senam dia masuk ke kamar. Walau masih SMP kelas 2 lihat Tante Vida dengan pakaian gitu merasa keder juga. Payudaranya yang montok seperti tak kuasa pakaian senam itu menahannya. Kemudian dia duduk di samping. Dia bilang, “Dod, kamu mau saya ajari permainan nggak Dod?” Tanpa pikir panjang, saya jawab, “Mau tante, tapi permainan apa lha wong Dodi baru sakit gini kok!”Tante Vida berkata, “Namanya permainan kenikmatan, tapi mainnya harus di kamar mandi. Yuk” Sambil Tante Vida menggandeng tanganku masuk ke kamar mandi saya. Saya sih mau-mau saja. Kemudian mulai dia melorotkan celana saya sambil berkata, “Wah, burungmu untuk anak SMP tergolong besar Dod.” Tante Vida terkagum-kagum. Waktu itu saya cuma cengengesan saja, lha wong hati saya deg-degan sekali waktu itu.Terus dia mulai membasahi kemaluan saya dengan air, kemudian dia beri shampo, terus digosok. Lama-lama saya merasa kemaluan saya semakin lama semakin keras. Setelah terasa kemudian dia melucuti pakaiannya satu demi satu. Ya, a,pun ternyata tubuhnya sintal banget. Payudaranya yang montok, dengan pentil yang tegang, pantat yang berisi dan sintal kemudian vaginanya yang merah muda dengan rambut kemaluan yang lebat. Kemudian dia berjongkok, setelah itu dia mengulum penis saya, dadanya yang montok ikut bergoyang. Dada dan nafasku semakin memburu. Saya cuma bisa memejamkan mata, aduh nikmatnya yang namanya permainan seks. Kemudian, saya nggak tahu tiba-tiba saja naluri saya bergerak. Tangan saya mulai meremas-remas dadanya, sementara tangan saya yang satu turun mencari liang vaginanya. Kemudian saya masukkkan jari saya, dia meritih, “Akhh, Dodi!” Saya semakin panas, saya kulum bibirnya yang ranum, saya nggak peduli lagi. Setelah bibir, kemudian turun saya ciumi leher dan akhir saya kulum punting susunya. Dia semakin merintih, “Aakhh, Dodi terus Dod!” Saya nggak tahu berapa lama kami di kamar mandi, terus tahu-tahu dia sudah di atas saya. “Dodi sekarang tante kasih akhir permaianan yang manis, ya?” Dia meraih kemaluan saya yang sudah tegang sekali waktu itu. Kemudian dimasukkan ke dalam vaginanya. Kami berdua sama-sama merintih, “Akhh! Lagi tante… lagi tanteee.” Terus dia mulai naik turun, sampai saya merasa ada yang meletus dari penis saya dan kami sama-sama lemas. Setelah itu kami mandi bersama-sama. Waktu mandi pun kami sempat mengulangi beberapa kali.Setelah itu kami berdua sama-sama ketagihan. Kami bermain mulai dari kamar saya, pernah di sebuah hotel di kaliurang malah pernah cuma di dalam mobil. Rata-rata dalam satu minggu kami bisa 2-3 kali bermain dan pasti berakhir dengan kepuasan karena Tante Vida pintar membuat variasi permainan sehingga kami tidak bosan. Setelah Tante Vida menikah saya jadi kesepian. Kadang kalau baru kepingin saya cuma bisa dengan pacar saya, Nanda. Untung kami sama-sama tegangan tinggi, tapi dari segi kepuasan saya kurang puas mungkin karena saya sudah jadi “*********” atau mungkin Tante Vida yang begitu mahirnya sehingga bisa mengimbangi apa yang saya mau. Nah, buat cewek-cewek atau tante-tante bermukim di Yogya yang sama-sama tegangan tinggi, kapan-kapan kita bisa saling berkenalan dan berhubungan. Mungkin kita bisa bermain seperti Tante Vida.
»»  READMORE...

Sabtu, 22 Januari 2011

Dinda Gadis Pemijat Ku





Dinda, Gadis Pemijat Ku

Pada hari Jum’at malam, tubuh saya terasa pegal sekali dan ingin dipijat. Iseng-iseng saya menghubungi dinda di handphonenya.

“Halo Dinda, ini Arthur”
“Halo Arthur, apa kabar? Lama enggak mijit” kata Dinda.
“Iya nih, pengennya besok dipijit tapi mau enggak kalau saya minta dipijit khusus ditempat saya?”
“Maksudnya pijit khusus?”
“Ya pijit lah, kan biasanya saya harus ke SM, tapi sekarang saya minta kamu ke tempat saya. Jangan khawatir deh, saya bayar lebih”
“Gimana cara ketemunya?”
“Saya jemput kamu aja deh di Blok M Plaza, besok pagi jam 8?
“Boleh deh”

Hari Sabtu pagi, saya menjumpai Dinda yang sudah menunggu di lobby Blok M Plaza. Ia mengenakan celana jeans ketat dan baju kaos berwarna ungu. Dinda yang berasal dari Sunda berwajah manis dan ayu. Tingginya sekitar 163 cm dan rambutnya panjang. Bibirnya yang selalu tersenyum membuat dirinya semakin manis. Apabila ia sedang bekerja, ia selalu mengenakan baju belahan rendah sehingga belahan dadanya terlihat cukup menantang dan mengundang perhatian para pria di SM. Cara memijatnya pun enak dan kadang-kadang nakal. Saat ia memijat pangkal paha, ia sering kali menyelinapkan tangannya ke antara selangkanganku dan meremas bijiku. Wah nikmat tidak terkatakan dan otomatis kontolku akan berdiri tegak.

Setiba di rumah, saya persilakan ia masuk. Saya menyuguhkan minuman dingin padanya.

“Mau pijit dimana?”
“Di kamar saja”
“Kamu tinggal sendiri?”
“Ada pembantu, tapi hari ini dia cuti. Katanya mamanya sedang sakit”

Kami berdua naik ke lantai dua dan masuk kamar. Saya melapisi tempat tidur saya dengan sprei supaya tidak kotor kena minyak pijit. Horden jendela saya tutup setengah supaya tidak silau dan saya nyalakan CD lagu klasik. Saya membuka semua bajuku lalu berbaring tengkurap di tempat tidur.

“Kamu enggak bawa baju ganti?” tanya saya melihat Dinda yang duduk ditempat tidur masih mengenakan celana jeans dan kaos.
“Enggak bawa”
“Buka aja pakaian kamu, daripada nanti kotor kena minyak. Udah enggak usah malu” kata saya.

Akhirnya Dinda membuka celana jeans dan kaosnya. Dinda mengenakan celana dalam g-string warna putih dan BH half cup warna putih. Vaginanya terlihat berbayang dibalik celana dalamnya yang tipis, sedangkan puting Dinda terlihat menyembul sedikit dari balik BHnya. Holy cow! Saya langsung konak melihat pemandangan cantik ini. Tidak pernah sebelumnya saya melihat seperti ini. Dinda tersenyum malu kepada saya tetapi saya berusaha tenang dan cuek.

Dinda mulai memijat kaki kiri saya mulai dari telapak kaki, naik ke betis, hingga pangkal paha. Setelah 15 menit memijat kaki kiri, gantian kaki kanan juga dipijat. Tak lupa saat memijat pangkal paha, tangannya ia selipkan diantara selangkanganku dan meremas bijiku. Saya tersenyum menikmati ini semua. Dinda kemudian mulai memijat punggungku. Ia duduk diatas pantatku. Saya merasakan kulit paha dan pantat Dinda yang halus bergesekan dengan pantatku yang tidak beralaskan apa-apa. 30 menit memijat punggung, Dinda kemudian berdiri didepanku. Ia memijat tengkuk dan leherku dari arah depan. Mata saya bebas memandang celana dalam g-stringnya yang sexy yang menutupi vaginanya. Bulu kemaluan sedikit lebat tetapi terlihat rapih. Sambil menikmati tengkuk saya dipijit, saya mengelus pantat dan paha Dinda. Dinda tersenyum melihat saya yang terus menatap vaginanya. 15 menit berlalu Dinda memijat tengkuk, leher dan kepala saya.

“Balik badannya” kata Dinda.

Saya memutar tubuh dan telentang di tempat tidur. Kontol saya berdiri dengan tegak. Saya mengubah posisi saya ditempat tidur dan berbaring ditepi tempat tidur. Dinda kemudian mulai memijat pangkal paha dan tulang kering. Wah cara ia memijat yang setengah membungkuk membuat saya semakin bergairah. Payudaranya menggelantung ditahan oleh BHnya. Tak henti-hentinya saya menelan ludah melihat pantatnya yang dibalut g-string. Posisi celana dalam dibagian selangkangannya agak miring sehingga saya bisa melihat bibir vaginanya sedikit. Tetapi saya menahan diri untuk tidak menjamah vaginanya. 30 menit kemudian, Dinda selesai memijat kedua kaki dan tangan saya.

“Sudah selesai nih” kata Dinda.
“Saya mandi dulu ya. Kamu nonton TV aja” kata saya sambil memutar VCD film Armageddon.
“Wah jangan film itu dong” protes Dinda.
“Ini ada bokep, mau?”
“Boleh, siapa takut” kata Dinda.

Setelah memutar film porno, saya mandi membersihkan minyak ditubuh saya. Tapi saya tidak berlama-lama mandi. Saya keluar dari kamar mandi dalam keadaan telanjang dan melihat si Dinda sedang rebahan ditempat tidurku sambil nonton bokep. Dinda memberikan senyum kepada saya lalu melirik kontolku yang berdiri.

“Mau dihisap?” tanya Dinda.
“Mau dong” jawab saya.

Saya rebahan disamping Dinda dan Dinda memutar tubuhnya sehingga kepalanya menghadap ke kontol saya dalam posisi setengah nungging. Lidahnya mulai menjilat kepala kontolku kemudian ke batang kontol dan biji. Saya menjulurkan tanganku keantara selangkangan Dinda dan mulai mengelus-elus vaginanya. Vaginanya terasa sedikit basah, entah basah karena kena minyak atau lendir dari dalam vaginanya. Dinda mulai mengulum kontolku dengan lembut sambil meremas bijiku. Nikmat sekali. Saya menarik pantat Dinda sehingga kita dalam posisi 69. Saya sampirkan celana dalam dibagian selangkangannya sehingga terlihat vaginanya yang ditutupi bulu kemaluan. Perlahan saya buka bibir vaginanya dan mulai menjilat klitorisnya. Dinda langsung tersentak dan pahanya merapat sehingga kepala saya terjepit diantara selangkangannya. Dinda mendesah dengan nikmat setiap kali lidah saya mengulum klitoris dan vaginanya.

“Sshh.. Terus Arthur, enak sekali” desah Dinda dengan nikmat.

Jilatan di vagina Dinda semakin gencar dan Dinda membalas dengan menghisap kontol saya dengan keras. Tak lama Dinda orgasme. Vaginanya langsung basah dari lendir vaginanya. Saya membalikkan tubuh Dinda sehingga tubuhnya menindih dadaku. Saya mulai menghisap puting payudaranya dari balik BH sedangkan tangan kananku sibuk meremas-remas payudara kiri Dinda. Dinda memejamkan matanya dan mulutnya tak henti berceracau.

Sambil menikmati payudaranya diremas dan dijilat, Dinda mengangkat pantatnya dan perlahan tangannya meremas kontolku sambil dikocok-kocok dengan cepat. Dinda lalu mengarahkan kontolku ke vaginanya. Awalnya agak susah memasukkan kontolku karena Dinda masih mengenakan g-string, Dinda mencoba membuka celana dalamnya tapi saya larang. Saya singkap sedikit celana dalamnya dan memasukkan kontolku ke vaginanya. Begitu masuk, Dinda mengubah posisi tubuhnya menjadi posisi jongkok diatas pinggulku. Dinda memutar-mutar pantatnya dengan perlahan sambil mengencangkan otot vaginanya. Terasa kontolku seperti diremas dan dihisap lebih dalam ke vaginanya. Mata saya merem melek menikmati pijatan vagina Dinda dan Dinda tersenyum melihat saya. Dinda kemudian mulai menggoyang pantatnya naik turun sambil terus mengencangkan dan mengendurkan otot vaginanya.

“Holy cow, Dinda, enak banget kontol saya dimainkan seperti itu” kata saya.

Dinda mempercepat tempo gerakannya. Payudaranya bergoyang naik-turun mengikuti irama goyangan Dinda. Sekali-sekali Dinda berhenti bergoyang tetapi ia terus memainkan otot vaginanya. Kontol saya benar-benar terasa seperti diremas dan dikocok oleh daging vaginanya. Nikmat sekali.

Keringat dari tubuh Dinda mengucur dengan deras. Rambut Dinda yang panjang mulai sedikit berantakan. Dinda kembali menggoyang pantatnya diatas pinggulku. Suara desahan Dinda hampir menyamai desahan pria dan wanita yang sedang bersetubuh di film bokep yang masih diputar. 15 menit dalam posisi ini, pertahanan saya jebol. Peju saya keluar dengan deras dalam vagina Dinda. Dinda sendiri saya hitung sudah orgasme 3 kali. Dinda menyandarkan tubuhnya di dadaku. Kontol saya masih terasa seperti diremas dalam vaginanya tetapi tidak sekeras sebelumnya.

Setelah istirahat sejenak, Dinda berdiri lalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Saya mengikutinya ke kamar mandi. Dinda menyabuni vaginanya lalu kontolku ikut disabuni. Dengan lembut tangannya menyabuni selangkangan dan kontolku kemudian dibilas dengan air. Setelah selesai bersih-bersih, saya menyandarkan Dinda ke wastafel lalu melebarkan kakinya. Dinda membungkuk didepan wastafel dan melihat diri saya dari balik pantulan kaca diatas wastafel. Rambutnya yang panjang tergerai dipunggungnya. Dengan sedikit kasar, saya memasukkan kontolku ke vaginanya dan mulai menggenjot vaginanya. Dinda sedikit tersentak tetapi ia mencoba mengimbangi permainanku. Dalam posisi seperti ini, kelihatannya Dinda agak susah untuk kembali mencoba memijat kontolku dengan vaginanya.

Tetapi ia mencoba cara lain, ia merapatkan kakinya sehingga kontolku terasa sempit dalam memasuki vaginanya. Dinda berseru-seru dengan nikmat setiap kali kontol saya keluar masuk vaginanya. Saya meremas-remas payudaranya dengan gemas. Mata Dinda terpejam dan mulutnya terbuka sambil berceracau. 7 menit menyetubuhi dalam posisi ini, saya minta Dinda berbaring di lantai kamar mandi. Dinda lalu telentang di lantai dan membuka lebar kakinya. Saya menindih Dinda dan kembali memasukkan kontolku. Dinda menjerit-jerit nikmat saat kontolku menghunjam vaginanya. Rupanya dalam posisi missionary, Dinda merasakan nikmat yang lebih banyak dibandingkan posisi sebelumnya. Kembali saya remas payudaranya dan memilin putingnya.

5 menit kemudian, kembali saya ejakulasi. Cepat-cepat saya keluarkan kontolku lalu mengocok kontolku diatas perut Dinda. Peju saya tumpah diatas perut dan dada Dinda. Tangan Dinda meraih kontolku lalu mengocoknya lebih keras. Saya melenguh dengan keras menikmati kocokan dari Dinda dan peju saya terasa keluar lebih banyak. Beberapa cipratan peju saya mengenai tangan Dinda, Dinda lalu menjilat tangannya yang kena peju. Ia juga menyapu tangannya di dadanya dan menjilat peju-peju dari tangannya.

Sepanjang hari kami terus bersetubuh di rumahku. Saya memesan pizza agar tidak usah pergi keluar untuk makan siang. Dinda memang fantastis.
»»  READMORE...

Rabu, 19 Januari 2011

Gara-gara Loyo

Cerita Dewasa Hot Gara-gara Loyo
CERITA DEWASA HOT. Ayahnya lelaki desa kebanyakan yang tumbuh menjadi pria keras karena sulitnya kehidupan. Itu membangun watak lugu sekaligus otoriternya dalam mendidik semua anak-anaknya. Khususnya Sumiati yang manis dan sebenarnya menyimpan daya tarik seksual tersembunyi.

Faktor inilah yang membuat Sumiati secara tidak sengaja, jatuh di tangan seorang lelaki tua namun kaya yang punya Perkebunan Kelapa Sawit cukup luas di desa Aru Malili , tempat keluarga Parto, ayah Sumiati bekerja.

Budiarta, atau biasa dipanggil Tuan Budi, secara tak sengaja suatu hari melihat Sumiati mengantar makanan kepada Ayahnya yang sedang bekerja pada pembangunan koridor pengangkutan tandan kelapa sawit miliknya. Cukup sekali itu, entah oleh magnit apa, Budiarta yang sudah berusia 61 tahun langsung kemudian tak bisa lagi melupakan gadis pendiam bertubuh indah dan padat itu.

Melalui kebayanya yang sederhana, pengusaha perkebunan yang sukses dan sudah menduda lebih 15 tahun sejak bercerai dengan istri ketiganya ini, bisa membayangkan bagaimana lekuk tubuh Sumiati. Bagaimana bentuk buah dadanya yang montok dan agak besar, pinggulnya yang penuh berisi, sampai bagaimana gelinjang dan geliat gadis itu, jika dirangsang dalam ketelanjangannya.

Budiarta mencoba menghapus dan membuang semua pikiran liar itu, karena sadar kondisi dirinya. Namun semakin dibuang, kian meradang keinginan untuk menguasai gadis desa itu. Puncaknya, suatu hari, diam-diam dia meminta Parto membawa anaknya ke villa tempat peristirahatannya di tengah perkebunan kelapa sawit yang luas itu.

Di sanalah dia bisa melihat dan meneliti sosok Sumiati dari dekat. Bukan main. Ini kesimpulannya. Gadis itu benar-benar memiliki daya tarik seksual luar biasa. Sumiati seperti mutiara yang belum terpoles, atau berlian yang tersaput lumpur. Sekali dia bersih, maka pesonanya akan memancar cemerlang.

Melanggar tekadnya sendiri untuk melewati hari-hari tuanya secara tenang sendirian di perkebunannya, Budiarta nekat melamar Sumiati sebagai istrinya. Tentu saja ini bagai durian runtuh bagi Keluarga Parto. Dan Sumiati sendiri, yang semula sempat terkejut karena sadar harus mendampingi seorang pria tua sebagai suaminya, kemudian menepis semua pertimbangan dari tuntutan naluri wajar yang ada di dalam dirinya, sebagai seorang gadis belia.

Perkawinan itupun berlangsung dengan meriah. Membuat Desa Aru bagai tenggelam dalam kenduri panjang yang terus berdegup kencang. Dan di balik itu, Ibu Sumiati terus mengajarkan kepada anaknya, bagaimana caranya melayani seorang suami dengan baik. Secara khusus di tempat tidur. Sumiati mendengar dan menyimaknya dengan jantung tak henti berguncang. Membayangkan kelamin lelaki dalam keadaan tegang, besar dan keras, seperti sempat secara tak sengaja dilihatnya. Saat itu dia terbangun tengah malam dan ingin kencing di dapur.

Dari balik sumur tiba-tiba dia mendengar suara Ibunya. Entah keluhan, atau sejenisnya. Begitu dia mengendap dan melihat lebih jelas, matanya terbelalak dengan jantung seolah berhenti berdegup. Dia saksikan dengan pakaian sudah terbuka, Ibunya sedang bersandar di pohon dekat sumur, dengan sebelah kaki terangkat, sementara di depan, Ayahnya, dengan kelamin yang besar dan tegang sedang bersiap menyetubuhinya. Dengan ketakutan dia segera menjauh dari sana.

Namun bayangan itu, penis ayahnya yang besar dan keras, kelamin Ibunya yang siap menerima penis itu, tak pernah dia lupakan. Sesuatu yang membuat bagian bawah tubuhnya menjadi berdenyut, gatal dan luar biasa peka terhadap sentuhan. Badannya kadang sampai menggigil dan pikiran- pikiran aneh yang berkaitan masalah itu, dengan keras segera dia lupakan.

Sekarang, dia akan menjadi seperti ibunya. Budiarta memang sudah tua, tetapi sebagai orang kaya yang hidupnya terpelihara serta rajin olahraga, pria itu tetap kelihatan agak kekar. Berarti penisnya juga pasti masih perkasa. Itu yang belakangan ini menggoncangkan perasaannya.

Sebenarnya tak beda jauh dengan Budiarta sendiri. Gambaran tentang kemolekan tubuh Sumiati, aroma keremajaannya, keranuman kewanitaannya, bangun tubuhnya yang padat karena selalu bekerja cukup keras untuk membantu mengatasi kemiskinan keluarganya, membuat otak Budiarta seperti gila. Meski ada keresahan yang tak habis menyelimuti batinnya.

Malam yang dinantikan oleh keduanya itu tiba. Secara perlahan, di kamar pengantinnya yang mewah, di lantai yang sudah dihampari kain sofa yang tebal, Budiarta melepaskan pakaian Sumiati satu persatu. Gadis itu sendiri terus menunduk sambil membiarkan dirinya pasrah untuk diperlakukan apapun.

Tak lama kemudian, Sumiati sudah tergolek di atas lantai dengan telanjang bulat. Gadis itu terlihat berusaha menutupi buah dadanya yang sintal, serta kelaminnya yang ditumbuhi bulu agak lebat. Namun Budiarta selalu mencegah usaha itu. Lelaki ini kemudian mengambil botol madu yang sudah disediakannya.

Lalu secara pelan menumpahkan madu tersebut ke sekujur tubuh telanjang Sumiati, yang membuat gadis yang lebih banyak memejamkan matanya ini menjadi kiat gelisah. Apalagi ketika tangan lelaki itu, mulai meratakan ke seluruh permukaan tubuhnya.

Dengan gemetar, nafas memburu oleh nafsu, pria tua yang hanya mengenakan celana pendek ini, mulai menciumi dan menjilati sekujur tubuh Sumiati. Kedua tangan Sumiati direntangkan ke atas kepalanya. Ketiak gadis yang berbulu halus itu, dia ciumi dan jilati. Jilatan itu meluncur turun-naik ke sana kemari.

Ciuman dan jilatan serta hisapan itu benar-benar bagai bara yang membakar. Membuat gadis desa yang tak pernah seumur hidupnya disentuh pria ini menjadi tersentak-sentak, gelisah, dan terengah-engah menahan gelora perasaan dan emosinya yang bangun menggelora.

Makin lama, ciuman, jilatan dan hisapan Budiarta semakin ganas. Kedua puting buah dada Sumiati bergantian disedot dan diremas-remasnya. Bahkan wajahnya dengan kuat digosokan ke sana, membuat benda padat yang tegak menantang itu menjadi penyek dan terdorong kesana-kemari. Sementara tangan Budiarta terus mengusap, menggosok dan meremas bagian vaginanya. Memutar dan menusuk-nusuk di sana.

Sumiati tak tahan lagi untuk mengeluarkan suara-suara liarnya oohhhhhhhh............ssshhhhhhhhhh,
meski masih terdengar perlahan, pada saat kedua pahanya dikangkangkan, kemudian Budiarta menciumi, menghisap serta memainkan lidahnya di vagina dan bibir kelamin yang basah oleh lendir bercampur madu itu.

Sumiati mengerang nyaring kemudian mengejang,....................aauuugghhhhhhhh............oohhhh berpegangan keras di kepala Budiarta, pada saat sesuatu yang luar biasa, fantastis dan melambungkan dirinya ke dalam kenikmatan yang tak bertara datang dari dalam dirinya. Ini orgasme pertama yang pernah dirasakannya. Sesuatu yang pernah diceritakan Ibunya, kalau penis lelaki secara intensif keluar masuk di dalam vagina wanita.

"Itu sorga dunia, Nduk".

Budiarta nampak terengah-engah, menyaksikan gadis yang memandangnya dengan mata sayu, hanyut jauh oleh nafsu dan kenikmatan itu. Tapi mengapa dia belum juga membuka celana pendeknya, mengeluarkan sesuatu yang sejak tadi --meski malu-- ingin sekali disaksikan Sumiati. Sesuatu yang menurut Ibunya tak masalah jika kau jilat, kau hisap, dan kau telan air yang akan keluar menyemprot dari sana. Air cikal-bakal kehidupan fisik seorang manusia.

Mengapa benda yang tegar, perkasa dan penuh pesona itu tak juga ditunjukan serta diberikan kedirinya untuk bisa ganti dia rangsang?

Pertanyaan ini membayangi perasaan Sumiati, ketika Budiarta kembali memperlakukan dirinya seperti tadi. Menjilatinya, menghisapnya dengan ganas. Bahkan membalikanan tubuhnya, mengangkat pantatnya, kemudian menjilati anusnya yang membuat dia berpegangan di sofa tebal yang empuk tersebut dengan tubuh menggigil dan tersentak-sentak menahan getaran nikmat tak terlukiskan.

Sumiati kembali merasakan orgasmenya. Kali ini bahkan lebih hebat dari yang pertama, karena membuatnya tanpa sadar terpekik dan mengejang sangat lama.............
oooooghhhhhhhhh................sshhhhhhhhhhh.......ohhhhh
Nafasnya kemudian memburu kencang, seperti telah berlari naik gunung. Budiarta kemudian menjatuhkan tubuhnya ke sisi gadis itu. Tergolek di sana. Lama. Sumiati berusaha bangun dan diam-diam merasa tidak mengerti, mengapa celana pendek suaminya itu tak menunjukan sesuatu yang sedang berdiri keras di baliknya. Sesuatu yang tegang dan sejak tadi dibayangkannya mirip seperti kepunyaan Ayahnya. Apa sebenarnya yang terjadi?

Dengan agak ragu, namun dibekali peringatan Ibunya, agar dia bisa memberikan "pelayanan terbaik" untuk suaminya, Sumiati pelan-pelan menyentuh celana itu. Budiarta cuma diam membisu. .............Malah dia kemudian menurunkan celananya dengan serta merta............, menunjukkan kelaminnya yang -astaga- ternyata kecil, lembek dan mirip punya adik lelakinya yang diam-diam sering dia saksikan di rumah.

Inikah yang pernah dia dengar tentang impotensi? Ketidakmampuan seorang lelaki untuk melakukan hubungan seksual? Apakah itu karena pria ini sudah tua, dan wajar seorang pria seperti dirinya tak bisa gampang lagi memfungsikan alat kejantanannya? Atau dia harus berperan lebih berani dan aktif, seperti yang telah diajarkan Ibunya?

Pikiran ini, membuat Sumiati pelan-pelan meremas penis yang lunglai itu dengan tangan gemetar. Lalu akhirnya menunduk dan mulai menjilatinya. Budiarta cepat membuka kakinya lebih lebar. Sumiati memasukan penis itu ke dalam mulutnya. Mengecup, kemudian mulai menghisapnya, seperti biasa dilakukan bayi terhadap ibu jarinya.

Tubuh Budiarta kelihatan menggeliat-geliat menahan nikmat. Tapi berlalu tiga, lima, bahkan sepuluh menit, penis itu tak juga mau tegang. Ada memang perubahan, karena tak lagi selembek tadi. Tapi tetap saja lemah. Dan mendadak Budiarta menjauhkan wajah Sumiati lalu menggeleng dengan wajah sedih. Sumiati terpana Mengapa Budiarta tak pernah lagi terpikir untuk menikah selama puluhan tahun, dan mengapa akhirnya dia memutuskan untuk mengawini Sumiati, itu semua beranjak dari kondisi dirinya yang demikian.

Dia tahu Sumiati gadis yang menarik dan merangsang namun sekaligus penuh pengabdian dan sangat penurut sehingga tak terlalu dikhawatirkan bisa berbuat macam-macam di belakangnya. Yang lebih penting lagi, perwatakan itu akan membuatnya bisa melaksanakan keinginan tersembunyi yang dahulu pernah diminta bisa dilakukan tiga istri terdahulunya, namun justru akhirnya menimbulkan perceraian diantara mereka. Karena kedua istrinya itu kemudian jatuh ke tangan orang lain dengan membawa banyak hartanya.

Secara fisik, meski sudah berusia lebih enam puluh tahun, Budiarta sebenarnya masih normal. Namun secara psikis, seksualnya terganggu. Dia tak mampu berhubungan dengan wanita secara normal. Untuk itu, ada cara-cara yang harus dilakukan untuk bisa membangunkan penisnya.

Awalnya dia masih berspekulasi, keranuman Sumiati, daya tarik seksualnya serta kesuciannya sebagai gadis --yang diakui Parto ayah Sumiati sendiri-- akan bisa secara perlahan membantu mengatasi problema dirinya. Ternyata tidak. Berulang kali setelah malam pertama itu, Budiarta tetap gagal menyetubuhi Istrinya. Padahal dia ingin sekali menikmati keperawanan wanita yang bangun fisik serta aroma tubuhnya sangat merangsang itu.

Sumiati sendiri, seperti memang diperkirakannya, terlihat tak terlalu mempermasalahkan itu. Dia terkesan sangat tidak ingin suaminya menjadikan faktor tersebut sebagai hal yang mengecewakan. Dan, tampaknya, Sumiati merasa cukup puas dengan permainan tangan dan mulut suaminya di seluruh bagian tubuhnya. Dia selalu mampu berulang-ulang mencapai orgasme, meski tentunya tetap berbeda dengan orgasme yang dihasilkan oleh sebuah proses coitus sesungguhnya.

Sesuatu yang dahulu pernah diterapkan Budiarta dengan tiga istrinya, segera kembali ingin diulanginya. Oleh faktor pertimbangan ketulusan pengabdian Sumiati, dia yakin, wanita itu tak akan mengkhiantinya, seperti tiga istrinya terdahulu. Ini alasan mengapa dia memutuskan untuk menjadikan Sumiati istrinya yang terakhir.

Sumiati tersentak, ketika keinginan itu dia sampaikan. Bahkan membuat wanita itu sampai gemetar karena terkejut dan penolakannya. Namun dengan halus Budiarta terus membujuk dan memberikannya pengertian.

"Aku perlu penyembuhan. Aku tidak akan bisa sembuh, tanpa terapi seks yang benar. Dan ini adalah salah satu yang dianjurkan oleh seorang ahli kepada Mas", kata Budiarta malam itu, usai membuat istrinya dua kali orgasme dengan tangan dan mulutnya.

Sumiati menelan ludahnya berulang kali dengan bingung.
"Lelaki itu hanya untuk membangkitkan kemampuan Mas. Dia nanti akan mencumbumu, namun tidak sampai menyetubuhimu. Nanti setelah punya Mas ini bangun, dia akan pergi dan selanjutnya kita akan bisa berhubungan dengan - normal. Ini juga perlu untukmu, Sum. Kau tidak boleh hanya menikmati hubungan seperti selama ini".

"Tapi, kenapa.. kenapa.. harus begitu?"
"Jika melihat kau dirangsang oleh orang lain, maka nafsu Mas akan bisa dibangkitkan sampai ke puncaknya yang membuat punya Mas bisa bangun. Mas pernah melakukan ini dengan istri-istri Mas terdahulu, tapi sayangnya mereka akhirnya menghianati Mas. Tapi Mas yakin, Sumiati tak akan memiliki pikiran sekotor mereka itu".

Sumiati seperti termangu. Budiarta terus melontarkan bujukannya. Dia meyakinkan wanita muda itu, bahwa apa yang akan dilakukannya dengan lelaki yang akan didatangkan di rumahnya tersebut, merupakan bagian dari proses pengobatan dirinya.

"Kalau kau mengabdi dengan Mas, sayang dengan Mas, ingin mengobati menyembuhkan penyakit yang sangat menyedihkan ini, kau pasti bersedia. Jangan anggap ini pengkhianatan, tetapi pengobatan. Bukankah di dalam Agama, barang harampun bisa dihalalkan, jika diperlukan secara darurat untuk pengobatan?" Oh ini salah satu argumentasi hebatnya untuk melemahkan hati si istri.

Setelah beberapa hari membujuk, Sumiati akhirnya bersedia. Budiarta gembira sekali. Dia sudah memilih seorang gigolo, Sang Pejantan untuk merangsang habis Sumiati, sementara dia akan mengintip perbuatan mereka. Syaratnya, lelaki itu meski telanjang, dan mungkin akan sangat terangsang, tidak boleh sampai menyetubuhi istrinya.

Dia sendiri sudah mengingatkann Sumiati, untuk benar-benar bisa menghayati dan melayani rangsangan Si Lelaki. "Kalau kau tidak mamputerangsang, karena takut, atau hatimu diam-diam menolak, maka nafsu dan punya Mas juga tetap tidak akan bangkit secara sempurna. Bahkan malah tambah payah karena Mas merasa bersalah. Kau harus benar-benar menganggap lelaki itu suami sementara untuk pengobatan Mas. Kau Faham?," kata Budiarta menjelang pelaksanaan "terapi seks" tersebut.

Lelaki yang dipanggil Budiarta secara khusus itu, adalah seorang pria 27 tahun yang cukup ganteng, dengan tubuh kekar dan memiliki segalanya untuk bisa memuaskan seorang wanita. Badannya berbulu, beralis lentik, dengan kumis agak tebal di bawah hidung mancung yang menjadikan ciri keturunan Arabnya cukup ketara. Namanya Arman. Jantung Sumiati berdebar kencang menyaksikan kehadiran pria tersebut. Seseorang yang tak bisa dia sangkal, sangat, sangat, sangat menarik, lembut dan sopan.

Seseorang yang akan merangsangnya dalam kondisi sama-sama telanjang bulat berduaan di dalam kamar yang akan dikunci si lelaki dari dalam, sampai kemudian pintu kamar itu kembali dibuka waktu suaminya mengetuk dari luar. Kepada istrinya, Budiarta menyatakan akan pergi keluar rumah kira-kira setengah jam, baru kemudian datang lagi dan menunggu penisnya bisa bangkit dengan menyaksikan keduanya bergulat dari balik pintu. Sebenarnya tidak persis begitu. Budiarta tidak benar-benar pergi, namun sekedar mengesankan keluar rumah dengan cara menutup daun pintu dari luar, tetapi segera balik lagi dan mulai melakukan "pengintipan" dari lubang yang secara diam-diam telah dibuatnya tanpa setahu Sumiati.


Sumiati benar-benar melayang hanyut. Dengan gemetar, dia membalas pagutan dan rangsangan Arman yang terasa sangat ahli itu. Berulangkali dia hampir orgasme dengan kepiawaian fore play yang dilakukan pria pembangkit atau pengobat suaminya......., namun digagalkan si lelaki lewat cara yang juga piawai. Sepanjang proses perangsangan itu sendiri, tak hentinya Arman melontarkan bisikan - bisikan mesra, penuh sensasi dan sanjungan yang membuat Sumiati semakin melayang.

"Kau cantik, tubuhmu harum merangsang. Oh.. payudaramu kenapa begini padat dan menantang? Dan inimu.. ini klentitmu.. keras sekali.. bagaimana perasaanmu? kau terangsang sayang?," bisik Arman.
"I.. iiya.." Dengan mata melotot dan nafas memburu, Budiarta menyaksikan bagaimana istrinya mengerang dan menjerit oleh remasan, pijatan, usapan tangan, maupun permainan lidah serta hisapan dan jilatan Sang Pejantan. Arman kadang juga menggunakan kaki dan dengkulnya, gosokan dadanya yang penuh bulu, untuk menambah sensasi dan rangsangan terhadap Sumiati.

Terlihat sekali, Arman terangsang dengan aroma seks yang ditebarkan wanita di depannya. Bau khas tubuh Sumiati membuatnya bagai mabuk. Sementara kejutan- kejutan alamiah di beberapa bagian otot tubuh Sumiati meyakinkannya tentang virginitas wanita ini, seperti memang sudah diceritakan Budiarta

Saat pria itu melepas celananya, telanjang bulat sama sekali, mata Budiarta tambah melotot. Luar biasa. Penis itu demikian besar dan kerasnya sehingga masih mampu tegak ke atas, ketika Arman berdiri. Oh itu tidak boleh merenggut keperawanan Sumiati yang sudah menjadi miliknya. Tapi dia percaya, si lelaki tak akan melanggar "kontrak" dengan bayaran mahal ini.

Budiarta menyaksikan Arman mendudukan Sumiati yang kelihatan sangat terangsang dan terkesan menjadi "liar dan buas" itu, di tempat tidur. Dia sendiri berdiri di lantai. Penis besarnya kemudian diarahkan ke mulut Sumiati. Tanpa diminta dua kali, Sumiati yang mengira suaminya masih pergi, kemudian menjilat, mengulum, lalu mengisap benda yang sudah lama diidamkannya itu.

Sangat rakus!
"Oh.. besar.. besar sekali.. punyamu besar," bisiknya bagai orang mengigau.
Budiarta melihat air liur istrinya bertitikan di buah dadanya sendiri yang kedua putingnya terlihat demikian tegang.

Tidak hanya itu, Sumiati terlihat juga mulai menjilati seluruh bagian kelamin Arman. Seperti kedua kantung testikelnya yang berganti-ganti dijilat dan disedotnya. Kemudian kedua lipatan pahanya. Yang membuat Budiarta terpesona, dalam melakukan perbuatan itu, Sumiati terus berusaha memandang wajah Si Lelaki, seperti ingin mengetahui, bagaimana reaksi yang muncul dari perbuatannya. Dan setiap Arman menjerit keenakan, entah disengaja atau tidak.

Sumiati juga ikut mengerang dengan mulut penuh itu, karena terangsang. Sumiati, Si Istri yang selama ini demikian pemalu, lugu, tertutup, penuh pengabdian, seperti telah berubah total. Budiarta menyaksikan bagaimana istrinya itu menarik tubuh Arman untuk ditelentangkan di tilam, lalu menjilati seluruh tubuh pria yang baru dikenalnya itu, kemudian menghisap dan mengocok penis besar Si pria keturunan Arab yang kelihatan perkasa. Dia tak mendengar bagaimana bisikan-bisikan yang dilakukan keduanya.

"Mbak Sum kau ahli.. hisapanmu hebat.. ohh yahh.. kau pintar.. kau ingin itu? Kau mau punyaku?," bisik Arman.
"Mau.. kau punya besar.. aku mau..," bisik Sumiati diantara kesibukan mengisapnya.
Jelas itu ungkapan bawah sadarnya.

Kocokan tangan Sumiati demikian cepat, membuat Arman menoleh ke arah pintu seperti ingin mengetahui bagaimana kondisi Budiarta. Pantatnya diangkat, menahan kenikmatan dari permainan si wanita yang kelihatan sudah bagai orang kalap akibat nafsu. Lelaki yang sangat berpengalaman dengan ratusan bahkan ribuan wanita ini menggeliat- geliat ingin melepas bendungan di dirinya.

Dan Budiarta tiba-tiba merasa celana dalamnya mengetat. Penisnya bangkit! Oh cukup keras dan menggetarkan. Inilah saatnya. Pintu segera dia ketuk, bersamaan dengan pekikan Arman yang menggeliat-geliat dengan bagian kepala penis besarnya memenuhi seluruh mulut Sumiati. Wanita ini seperti mengerang dan dengan rakus menyedot serta menghisap habis tanpa sisa, sperma yang dengan keras kemudian disemprotkan dari mulut penis Arman. Budiarta mengetuk lebih keras pintu itu. Arman segera melompat bangkit. Membukakannya, di mana Budiarta kemudian langsung menerobos masuk, menindih istrinya yang penuh keringat, kemudian mulai mengambil apa yang menjadi haknya. Menikmati keperawanan Sumiati, menembus selaput daranya.

Sumiati sendiri, bagai orang kesetanan, menyambut sergapan suaminya dengan jalan mengangkangkan pahanya lebar-lebar, menunjukan belahan bibir kelaminnya yang basah dan merah. Dia sudah kehilangan rasa malu dengan kehadiran orang ketiga di dalam kamarnya. Arman sendiri, sesuai perjanjian yang telah disepakati, segera keluar. Ketika dia menutup pintu. terdengar jeritan kesakitan bercampur kenikmatan yang sangat merangsang dari mulut Sumiati.............
pecahlah perawan itu........
selaput tipis yang selalu dijaga ketat oleh si empunya......
aaachhhh .....achhhhhh.....accchhhhhh....
hanya erangan erangan itu yang terdengar dari luar kamar...
rupanya dengan bantuan kontol lelaki lain........dapat menyembuhkan impotensi ........................
rasa syukur dari pak Budiarta.....tak terkira.............
»»  READMORE...

Selasa, 18 Januari 2011

Gara-Gara Nonton Video Dewasa ariel vs luna maya dan cut tari

Cerita Dewasa Hot berikut ini adalah kisah sex nyata yang gw alami sendiri Gara-Gara Nonton Video Dewasa ariel vs luna maya dan cut tari yang sedang marak beredar, berikut cerita sexnya, Pada tanggal 10 juni 2010, Gw mendatangi Hotel C yang terletak di dekat Pancoran Jakarta selatan dimana ada teman masa SMU menginap untuk sebuah keperluan workshop di Jakarta. Teman cewek gw ini, dulu sempat dekat dengan gw pada masa-masa SMU. ternyata gadis idola gw ini hingga sekarang belum menikah, entah belum ada jodoh atau karena sebab lain Gw tak tau. Maya (sebut saja demikian) saat ini bekerja di sebuah Perusahaan yang bergerak di bidang kelautan yang berbasis di Indonesia Timur. Walau sering ke Jakarta, namun baru kali ini kami berjanji untuk bertemu, terima kasih facebook yang telah memungkinkan pertemuan ini terjadi! cerita sex dewasa berawal dari facebook!hihihi

Ok lanjut ke Cerita Dewasanya, Gw duduk di Lobby, memesan teh dan duduk menunggu Maya datang menemuiku. Baru setengah batang rokok kuhisap, Maya datang. Hmmm wajahnya masih menarik seperti dahulu, dengan mengenakan rok selutut yang agak ketat berwarna biru tua, blouse warna putih dan blazer senada rok, Maya tampak sebagaimana seharusnya seorang wanita karir berpakaian.

Hai Don ... apa kabar ?
(Maya memanggilku Donny, nama akrabku di masa SMU karena memang kulitku lebih hitam daripada teman-teman lain)

Hai Maya... baik, sibuk terus ya ?

iya nih, ini juga baru kelar workshopnya, nih masih bawa materi... sahutnya sambil menunjukkan map plastik berisi dokumen.

Kamipun bersalaman dan cipika cipiki formalitas. Berbagai cerita pun mengalir lancar, hingga tak terasa sudah mendekati jam 20 malam. Maya pamit untuk mandi di kamarnya, dan setelah itu kami akan makan malam di luar.

Selesai mandi, Maya berganti kostum, kali ini celana jeans belel. sepatu ket putih dan kaos berwarna putih. Dalam perjalanan menuju Rumah Makan Sunda yang memang tidak begitu jauh, kami lebih banyak diam. Berbagai kenangan masa lalu lebih ramai bermunculan di benakku, mungkin juga Maya .

Makanan telah dipesan, Gw pun leluasa memandang Maya . Masih cantik...

Don .. ngapain aja kamu sekarang ?

Ya.. gini-gini aja, jualan keliling Indonesia sahutku

enak dong.. kalo ke Bali mampir ya ke rumah.. kata Mayaa

ah.. nanti pacarmu sewot !

hahah .. mosok sama pacarku aja kok tGwt... iya kalo ada.. kalo gak ada ? wong Gw aja gak tGwt sama istrimu kok

hlo emang kamu gak punya pacar ?

sekarang sih gak ada... kemaren sempat ada, tapi ya gitu... setiap cowok yang dekat denganku selalu melarikan diri ketika Gw ajak serius, sama kaya kamu dulu !

eh Maya.. emang dulu kamu mau sama Gw ? bukannya surat-suratku gak pernah kamu balas ? ada kali 5 surat yang kukirim lewat pos ditujukan kepadamu ... Maya Aulia, SMU ********, jalan *********** surat-surat itu intinya sih nembak kamu lah.. kalo bahasa anak sekarang

hlo, Gw gak pernah terima surat-surat itu Don ! gak satupun !

waduuuh... terus siapa yang baca ya ? makanya setelah kamu gak balas surat-suratku dan kamu bersikap seolah gak ada apa-apa sama Gw, ya Gw pikir kamu hanya mau berteman... makanya Gw heran, kenapa kamu komplain setiap malam minggu Gw gak main ke rumahmu... toh kita gak pacaran ..!

hmmm iya.. waktu itu Gw berharap, kamu ngajak Gw pacaran Don.. tapi gak pernah terucap sekalimatpun dari dirimu .. yang ada setelah lulus kamu malah pacaran sama siapa itu ..? teman kampusmu yang suka kau kenal-kenalin kemana-mana itu! Ketika hatiku berharap, ketika diriku siap ... kau melarikan diri !

hmmm nanti dulu, Gw jadi ingat sama Bu Budi, guru BP dia pernah menegorku untuk belajar dulu jangan main surat-suratan ... tapi waktu itu Gw gak perhatikan... ingat Gw sekarang namanya kan Maya Sirait ! dipanggil Bu Budi karena kawin sama Pak Budi matematika ..jangan-jangan surat itu dia yang terima ! Mampus Gw !

ha ha ha ha ha ..... salah sendiri.. pake surat-suratan kaya jaman kuno ! ngomong langsung kenapa !

habis, Gw malu kan Maya... iya kalo kamu mau.. kalo nolak kan gak begitu malu kalo pake surat..

ya sudah... sudah jadi sejarah... he he he gimana keluargamu sekarang Don ?

Pembicaraanmu bergeser ke topik lain yang gak begitu penting, setelah makan, kami kembali ke hotelnya, kali ini agak jauh memutar di putaran Kuningan. Ketika radio mobil membahas soal video mesumnya yang diduga dilGwkan oleh Ariel, Luna dan Cut, Maya bertanya,

emang itu beneran Don ? Ariel beneran ?

gak tau ah.. belum liat jelas juga sih... belum sempat liatnya

emang kamu punya ?

Ada tuh di laptop, yang katanya sama Cut Tari juga ada

Liat doong !

Ya ntar aja di Hotel, baterainya habis laptopku...

Masuk kamarnya, pintu kamar sengaja dibiarkan dibuka, dia belum nyaman lah berduaan dengan yang bukan muhrimnya. Kuberitahukan dimana file-file yang dia ingin lihat itu berada dan Gw mohon ijin menggunakan kamar mandinya untuk mandi.

Beberapa saat kemudian, Gw keluar dari kamar mandinya, bertelanjang dada, karena kaosku terjatuh tersiram shower. Tampak Maya sedang memiringkan kepalanya sambil menonton video yang tampaknya salah orientasi itu. Gw mendekat,

gambarnya bagus juga...

ooh itu beneran Cut Tari ya ?

iya kali.. Cut Tari yang mana juga gw gak apal

Liat deh.. matanya ... bibirnya... tuh tuh

Gw mendekat, berdiri membungkuk dibelakang Maya ikut memperhatikan video yang sedang diputar. Ufff... luar biasa ! video itu benar-benar membuat Maya terpGw tak berkedip memperhatikan, sementara Gw di belakang mulai tegang dan pening.

Gw melangkah ke pintu, kututup pintu, gak enak ntar ada yang tau . Padahal karena memang Gw punya maksud lain.

keluarain luar aja.. ntar hamil...he he he Maya berkomentar ketika ada dialog di dalam video Mau Keluarin dimana ? terdengar.

Durasi video habis, Maya beranjak berdiri, menghela nafas dan memandangku ih.. kenapa liatnya begitu

Gak pa pa .. Gw kangen kamu Maya... baru kusadari betapa Gw bodoh saat itu, gak bilang langsung sama kamu

sudahlah..gpp kok.. sudah jadi sejarah.. toh kamu sekarang sudah menikah.. punya anak...

Mayaa gak sempat menyelesaikan kalimatnya, ketika tiba-tiba kucium bibirnya dan kukulum perlahan. Maya sedikit tercekat, ada penolakan .. ada hasrat... ada tantangan .. ada petualangan bercampur dalam respon Maya terhadap ciumanku.

Tiba-tiba, Maya mendorongku dan sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiriku. Gw tak surut selangkahpun, kurengkuh dia dalam pelukan, kuciumi rambut kepalanya dan keningnya kemudiah ku peluk lagi erat. Maya mulai terisak...

kamu jahat Don... Gw mau kau apakan saja.... asal jangan pernah kau meninggalkanku !

iya beibz... andai Gw mengetahui waktu itu...

Kali ini, Gw terbawa oleh perasaan, air matGw mengalir dan Gw sedikit terisak. Maya mengusap airmatGw, kemudian mencium bibirku

Gw sayang dan kangen kamu... bisiknya

Ciuman bibir berdasar naluri dan penuh perasaan itu, terjadi sekian lama, rasanya memang beda ketika kau berciuman dengan seseorang yang benar-benar kau tau bahwa dia menyayangi dan membutuhkanmu, kau seakan tidak menginjak tanah.

Kali ini, hasrat dasar manusia mendorongku untuk melangkah ke tahap yang lebih jauh. Kulucuti pakaiannya, kubaringkan di tempat tidur dan kujelajahi seluruh lekuk tubuhnya dengan bibir dan lidahku. Payudaranya yang membulat dengan puting kecil coklat muda yang agak tenggelam itu kuhisap-hisap, kujilat-jilat dan kugigit-gigit hingga sekarang tampang sedikit menonjol. Vaginanya yang hangat dan basah itu, juga kujelajahi dengan lidah dan bibirku. Maya menggigit bibirnya sendiri, mencengkeram bahuku dan mengetatkan jepitan

Kembali ciuman bibir kulGwkan, dengan bisikan-bisikan mantra ajaib asal bunyi di teDonanya. Maya meresponse lebih dahsyat kali ini, matanya terpejam penuh penghayatan. Penetrasi kulGwkan perlahan, desakan pada vaginanya yang terasa sempit membutuhkan sedikit energi tambahan. Ketika terasa posisinya sudah nyaman, kudorongkan sekuat tenaga pinggulku untuk menyatukan Donga dan Yoni kami. Maya berseru lirih...aaaaaaacccch...

MOT standar berlangsung sekitar 3 menit, kemudian Maya diatas, namun tampaknya dia belum begitu ahli, goyanganya belum memiliki irama yang indah. Maya cenderung bergerak patah-patah dan menekan kuat pinggulku, tampaknya dia gemes. 2 menit WOT yang tidak terlalau lancar, wajah Maya sudah memerah dan matanya semakin sayu.

Mayaa kutidurkan tengkurap, pinggulnya kuangkat hingga agak nungging, kuganjal bantal dan kemudian kulakan penetrasi lagi. Vaginanya sudah sangat licin, goyangan dengan rpm tinggi kulGwkan beberapa saat, ketika terasa dinding pertahananku sudah mulai melemah pertanda akan tumpahnya jutaan calon jenderal ke dalam vaginanya, kurobah posisi, kali ini miring, kaki kanan Maya lurus, kaki kirinya menekuk ke depan, badannya miring dan Gw bisa leluasa memandang payudaranya yang bergoyang-goyang ketika kusodokkan penisku.

jangan pernah tinggalkan Gw ya beib... aaah uuuh... oohh

iya... tak akan pernah Gw meninggalkanmu lagi...uuph oooh

temani Gw terus.... walau kamu berkeluarga Gw tak peduli ... kamu atur gimana caranya... aah aah... aauuw ssshhh

iya beib.. Gw ngerti.. uuuh.. ahhhh mau keluar nih...

mau keluarin dimana ? bisik Maya sambil terengah-engah. Sesaat seakan Gw pernah mendengar kalimat itu dan juga posisi ini.. de javu .. tapi entahlah.

Gw jawab dengan tindakan, kusemprotkan seluruh sperma yang tersedia saat itu ke dalam rahim Maya . Maya kemudian menjerit tertahan ooooooggghhh

Kupeluk Maya erat, kuciumi dia kemudian kami tertidur. Ketika Gw terbangun, beberapa saat kemudian tampak lelehan sperma putih bercampur darah merah tua mengalir dari selangkangan Maya . Maya masih tertidur...

Gw ambil HP, mengirimkan sms RI 1 say.. Gw nungguin ngedit on line ya .. di studio **** kayaknya sampai pagi
setelah ada jawaban ok..Gw tidur.. ngantuk nich...mmuuuach Gw pun kembali tidur memeluk Maya .

Jam 5 subuh, Maya membangunkanku .. Gw bisa hamil nih Don ...

hmmm iya... gumamku mengantuk

jebol juga perawanku nih ..

hmmm iya... gumamku lagi

Don ! bangun ! harus bagaimana ini !! Dasar kebooo tidur melulu !

Gw terbangun seketika, otakku berputar dan berbagai Rencana Dewasa telah tersedia disana. Cari Postinor 2 di apotik buat Maya , agar gak hamil, menemaninya lagi malam berikutnya ... dan mengantarnya ke Bandara Jumat ini...
Cerita Dewasa ikibat dari Video Dewasa yang diduga Ariel Vs Lunamaya dan Cut Tari demikian hebat buat kami yang sudah dewasa ini... bagaimana anak-anak dibawah umur yang mendapatkannya? mungkinkah ada cerita seks lainya yang akan muncul akibat dari video dewasa artis indonesia tersebut!
»»  READMORE...